Menutup Tahun Tanpa Euforia, Saat Janji Pemerintah Diuji Fakta Ruang Publik Dipenuhi Klaim Keberhasilan

Ilustrasi.

Reportase Faktual || Menjelang tutup tahun, ruang publik kembali dipenuhi deretan klaim keberhasilan.

Spanduk capaian, rilis seremonial, dan pidato optimistis beredar nyaris tanpa jeda. Namun di balik narasi resmi itu, publik membutuhkan satu hal yang jauh lebih penting, jawaban jujur tentang apa yang benar-benar sudah dan belum dikerjakan negara.

Selama 12 bulan anggaran berjalan, pemerintah—baik pusat maupun daerah—menyusun begitu banyak janji.

Mulai dari perbaikan layanan publik, penanganan ekonomi rakyat, hingga penegakan hukum yang berkeadilan.

Akhir tahun seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar panggung perayaan.

Di sejumlah daerah, proyek infrastruktur memang terlihat rampung. Jalan dibangun, gedung berdiri, dan papan proyek terpampang rapi.

Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama, apakah pembangunan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan publik atau sekadar mengejar serapan anggaran?

Di sektor pelayanan publik, keluhan warga masih berulang. Antrean panjang di fasilitas kesehatan, birokrasi berbelit, hingga pelayanan administrasi yang lambat masih menjadi cerita sehari-hari.

Ini menunjukkan bahwa persoalan struktural belum sepenuhnya disentuh, meski anggaran terus bergulir setiap tahun.

Sementara di sektor ekonomi rakyat, tekanan hidup belum sepenuhnya mereda. Harga kebutuhan pokok kerap naik menjelang akhir tahun, sementara daya beli masyarakat tidak mengalami peningkatan signifikan.

Bagi kelompok pekerja informal dan pelaku usaha kecil, akhir tahun justru sering menjadi masa paling berat.

Evaluasi juga layak diarahkan pada komitmen transparansi. Seberapa terbuka pemerintah dalam menyampaikan realisasi program ?

Sejauh mana publik dilibatkan untuk mengawasi jalannya kebijakan? Tanpa keterbukaan, klaim keberhasilan akan selalu berjarak dengan realitas di lapangan.

Akhir tahun seharusnya tidak diisi dengan kalimat “semua berjalan sesuai rencana”. Publik berhak mengetahui apa yang gagal, apa yang tertunda, dan mengapa hal itu terjadi.

Sebab hanya dengan mengakui kekurangan, perbaikan bisa dilakukan secara nyata.

Menutup tahun tanpa euforia bukanlah sikap pesimistis. Justru di sanalah letak kedewasaan bernegara: berani bercermin, bukan sekadar bertepuk tangan. (*)

Editor : RF1

Bagikan