Komdigi Percepat Pemulihan Jaringan di Sumatera, Pastikan Informasi Bencana Tetap Mengalir

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bergerak cepat memulihkan layanan telekomunikasi sembari mendirikan posko komunikasi di sejumlah lokasi strategis. (Foto : Kemkomdigi)

Sumatera, Reportase Faktual || Di tengah kepungan lumpur, jalan yang terputus, dan sinyal telepon yang sempat hilang dari layar ponsel warga, satu per satu titik komunikasi darurat kembali menyala di wilayah bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bergerak cepat memulihkan layanan telekomunikasi sembari mendirikan posko komunikasi di sejumlah lokasi strategis.

Di Kota Padang, Selasa sore, 02 Desember 2025, suasana Kompleks Kantor Gubernur Sumbar tampak berubah menjadi pusat pergerakan informasi.

Deru generator bercampur suara teknisi yang mondar-mandir memeriksa perangkat, memastikan publik tetap terhubung dengan kabar terbaru penanganan bencana.

“Pemulihan jaringan menjadi prioritas kami. Saat komunikasi lumpuh, koordinasi penyelamatan ikut terhambat,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Arry Yuswandi, yang memantau langsung kerja tim Komdigi.

Di Aceh, aktivitas serupa dipusatkan di Gedung Sekretariat Daerah Provinsi Aceh.

Para pewarta menjadikan ruangan itu sebagai sandaran utama untuk mengirim laporan lapangan, sementara petugas Komdigi menata perangkat relay dan pemancar portabel.

Sementara itu, Sumatera Utara mengoperasikan tiga posko sekaligus—Gedung Kwarda Gerakan Pramuka Sumut di Medan, GOR Pandan di Tapanuli Tengah, dan Posko Trauma Healing di Hamparan Perak, Deli Serdang.

Ketiganya menjadi simpul koordinasi antara operator seluler, lembaga daerah, hingga tim respon cepat yang bekerja menembus titik-titik terdampak.

Posko ini tidak hanya menyediakan jaringan internet darurat. Di dalamnya, Balai Monitoring (Balmon) wilayah aktif memantau kualitas jaringan, memastikan router darurat dan menara portable tetap aktif.

Bahkan, ruang redaksi mini turut dibentuk untuk mengelola rilis resmi, klarifikasi informasi, dan konten edukasi bagi publik.

Meski aliran komunikasi mulai stabil, kabar dari lapangan masih sarat duka. Hingga pukul 12.00 WIB, tercatat 35 warga Kota Padang Panjang meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Sebanyak 19 warga Silaiang Bawah masih belum ditemukan, sementara korban hilang dari luar Padang Panjang mencapai 14 orang.

Setiap angka yang dirilis menandakan pencarian yang belum usai. Petugas gabungan masih berjuang menembus jalur yang rusak, terutama karena akses utama Padang–Bukittinggi putus total.

Satu-satunya jalur yang tersisa hanyalah rute memutar jauh melalui Danau Singkarak di Kabupaten Solok.

Di tengah kondisi alam yang terus berubah, keberadaan jaringan komunikasi terbukti menjadi penopang utama.

Warga menggunakannya untuk memberi kabar kepada keluarga, relawan memanfaatkannya untuk pemetaan medan, sementara pemerintah mengandalkannya dalam distribusi informasi resmi agar publik terhindar dari hoaks.

Komdigi menyatakan dukungan penuh sampai situasi kembali normal. Puluhan teknisi disiagakan 24 jam, ditempatkan bergilir di beberapa titik paling kritis.

“Kami memastikan setiap posko siap menjadi simpul komunikasi publik. Semakin cepat informasi mengalir, semakin cepat pula bantuan tersampaikan,” tegas Arry.

Ketika bencana memutus jalan, jembatan, dan bahkan kehidupan banyak keluarga, sinyal yang kembali muncul di layar ponsel sering kali jadi penanda harapan.

Di sejumlah desa yang sempat terisolasi, warga menyambut gembira ketika jaringan pulih, meski hanya sebatas sinyal darurat.

Pemulihan fisik mungkin akan memakan waktu lama, tetapi memastikan komunikasi tetap hidup menjadi salah satu langkah terpenting agar upaya penyelamatan dapat berjalan cepat dan tepat.

Dengan pulihnya titik-titik jaringan dan beroperasinya posko komunikasi darurat, pemerintah berharap informasi penanganan bencana dapat tersampaikan tanpa hambatan—menginformasikan, mengedukasi, dan menenangkan jutaan warga di Sumatera yang sedang menghadapi masa sulit. (*)

Editor : RF1

Bagikan