Hari Jadi Banyuwangi 18 Desember, Bupati Ipuk Ziarah Makam Para Pendahulu, Tegaskan Warisan Kepemimpinan

Bupati Ipuk berziarah ke kompleks makam para bupati terdahulu di Kelurahan Kepatihan, Banyuwangi, Kamis, 18 Desember 2025.

Banyuwangi, Reportase Faktual || Peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) yang jatuh setiap 18 Desember tidak hanya dirayakan lewat seremoni.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memilih menundukkan kepala di hadapan sejarah. Usai upacara Harjaba, Ipuk berziarah ke kompleks makam para bupati terdahulu di Kelurahan Kepatihan, Banyuwangi, Kamis, 18 Desember 2025.

Lokasinya berjarak beberapa menit dari Pendopo Banyuwangi. Namun maknanya jauh melampaui jarak.

Ziarah ini menjadi penanda, pembangunan hari ini tidak berdiri di ruang kosong, melainkan bertumpu pada fondasi panjang para pendahulu.

Ipuk hadir bersama Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Sekretaris Daerah Guntur Priambodo, serta unsur Forkopimda. Turut mengikuti ziarah Dandim 0825 Banyuwangi Letkol Arm. Triyadi Indrawijaya, Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Muhammad Puji Santoso, Kajari Banyuwangi Agustinus Octovianus Mangotan, Wakapolresta Banyuwangi AKBP Teguh Priyo Wasono, hingga Kepala Kantor SAR Banyuwangi I Made Oka Astawa.

Di kompleks pemakaman tersebut dimakamkan sejumlah tokoh penting dalam sejarah Banyuwangi.

Mereka antara lain Kanjeng R.T. Wiroguno II (Mas Thalib), Bupati Banyuwangi II periode 1782–1818; Kanjeng R.T. Suronegoro, Bupati ke III (1818–1832); hingga Kanjeng Raden Adipati Wiryodanu Adiningrat, Bupati ke IV (1832–1867).

Selain itu, terdapat makam Kanjeng R.T. Pringgo Kusumo, Bupati ke V (1867–1881); Kanjeng R.T. Astro Kusumo, Bupati ke VII (1888–1889); Kanjeng R.T. Achmad Noto Adisoerjo, Bupati ke XI (1920–1930); serta Ir. H. Samsul Hadi, Bupati Banyuwangi ke XXV (2000–2005).

Bupati Ipuk menegaskan, ziarah ini bukan sekadar agenda simbolik tahunan. Ia menyebutnya sebagai pengingat tanggung jawab kepemimpinan.

“Ini bukan hanya meneruskan tradisi, tetapi bentuk penghormatan kepada para bupati terdahulu. Banyuwangi bisa berdiri kokoh seperti hari ini karena perjuangan dan pengabdian mereka,” ujar Ipuk di sela ziarah.

Prosesi berlangsung khidmat. Doa dipanjatkan bersama, dilanjutkan dengan tabur bunga di atas pusara para tokoh yang pernah memimpin Banyuwangi lintas abad.

Ipuk berharap nilai perjuangan, ketulusan, dan keberanian para pendahulu menjadi rujukan dalam melanjutkan pembangunan daerah.

“Semoga para bupati terdahulu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semangat pengabdian mereka harus kita jadikan teladan agar Banyuwangi terus maju, sejahtera, dan berdaya saing,” tambahnya.

Sebelumnya, rangkaian Harjaba ke-254 diawali dengan upacara peringatan di halaman Kantor Pemkab Banyuwangi.

Acara dilanjutkan makan nasi bungkus bersama berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengemudi ojek online, pesapon, juru parkir, hingga warga umum.

Bagi Banyuwangi, Hari Jadi bukan sekadar perayaan usia. Ia menjadi ruang refleksi—menengok ke belakang untuk memastikan langkah ke depan tetap berpijak pada sejarah. (*)

Editor : RF1

Bagikan