Reportase Faktual, Pasuruan || Di tengah kehidupan modern yang memuja kebersihan, estetika, dan kemewahan, manusia kerap terjebak menilai segala sesuatu dari rupa luar.
Yang indah dipuja, yang menjijikkan disingkirkan. Namun di balik penilaian yang tergesa itu, Tuhan sering menyelipkan pelajaran paling dalam justru dari makhluk yang dianggap remeh. Salah satunya: lalat.
Bagi kebanyakan orang, lalat adalah simbol gangguan. Ia identik dengan kotor, penyakit, dan sesuatu yang harus diusir sejauh mungkin.
Namun dalam kacamata makrifat—pemahaman batin tentang hikmah penciptaan—lalat justru menyimpan pelajaran tentang kerendahan diri, ketulusan, dan makna kebermanfaatan.
Dalam tradisi sufistik, setiap makhluk dipandang sebagai ayat Tuhan, tanda kehadiran dan kebesaran-Nya di bumi.
Lalat memang tidak memesona seperti kupu-kupu, tidak pula menghasilkan madu seperti lebah. Namun ia hadir dengan fungsi yang tak tergantikan. Secara ekologis, lalat termasuk serangga saprofag yang berperan mengurai sisa-sisa organik dan bangkai.
Tanpa peran ini, limbah biologis akan menumpuk dan mengancam keseimbangan alam. Fakta tersebut ditegaskan oleh LIPI dalam kajian tentang peran serangga pengurai dalam ekosistem.
Yang menarik, lalat menjalankan tugasnya tanpa tuntutan pengakuan. Ia diusir, dipukul, dianggap tak bernilai, tetapi tetap kembali dan tetap bekerja.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyinggung makna keikhlasan sebagai ketaatan yang tidak bergantung pada pujian atau penghormatan.
Makhluk yang terus menjalankan perannya meski direndahkan, justru sedang mempraktikkan bentuk ketundukan paling murni.
Dari sisi sains, ironi tentang lalat semakin terasa. Spesies Lucilia sericata—lalat hijau metalik—dimanfaatkan dalam dunia medis melalui Maggot Debridement Therapy (MDT).
Terapi ini menggunakan belatung untuk membersihkan jaringan mati pada luka kronis tanpa merusak jaringan sehat, dan telah diakui secara global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Makhluk yang sering dicap pembawa penyakit itu, dalam konteks tertentu justru menjadi sarana penyembuhan.
Para sufi memaknai lalat sebagai simbol kesabaran dan penerimaan takdir. Syeikh Sya’roni Al-Khalwati dalam Syarh Al-Hikam menggambarkan lalat sebagai makhluk yang tidak memiliki daya menolak keadaan, namun tidak pernah berhenti menjalankan fungsinya. Dalam diamnya, terdapat pelajaran tentang tawakal: menerima posisi tanpa kehilangan manfaat.
Kitab klasik Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi bahkan mengingatkan bahwa merendahkan makhluk Allah karena rupa atau kedudukannya sama dengan menutup pintu hikmah bagi diri sendiri.
Pesan ini terasa relevan di zaman ketika manusia berlomba terlihat “bersih”, “sukses”, dan “tinggi”, namun sering lupa pada makna suci dan tanggung jawab peran.
Barangkali, kegagalan manusia mencapai kedalaman makrifat bukan karena dosa besar, melainkan karena keengganan belajar dari hal-hal kecil. Kita ingin dihormati, ingin berada di atas, padahal kemuliaan sejati terletak pada ketulusan menjalankan amanah, sekecil apa pun peran itu.
Maka, ketika suatu hari seekor lalat hinggap di dekatmu, jangan buru-buru mengusirnya dengan rasa jijik. Bisa jadi, ia hadir sebagai pengingat sunyi: bahwa makhluk yang kau remehkan saja tetap setia pada tugasnya, sementara manusia—yang dianugerahi akal dan kemuliaan—sering lalai, bahkan tanpa sadar menempatkan diri seolah paling benar.
Seperti kata seorang arif, ketika seseorang telah memahami makrifat lalat, ia akan berhenti merasa lebih tinggi dari siapa pun. Sebab di hadapan Tuhan, nilai bukan ditentukan oleh rupa, melainkan oleh ketulusan dalam memberi manfaat. (H.Maidarov)
Editor : RF1






